Diary Yasma in The New World

 Ceritaku hari ini,

Hari itu aku pertama kali melihatnya. Menatapnya sayup, memandang matanya yang kian tak sanggup memandangku. Lucu dan imut. Itulah besitku saat itu. Sejak hari itu, kami mulai saling mengenal. Satu dan lainnya. Kami semakin dekat. Dekat dan mulai ada sesuatu di antara kami. Entahlah, tak tau ku sebut apa hal itu. Apakah sebuah rasa? Lantas rasa seperti apakah itu? Yang jelas, setiap ia muncul dalam anganku. Bibir ini tak sanggup menahan senyum _'Imut'_ itulah kata pertama yang muncul dalam suara hatiku kala itu. Setiap ku coba jabarkan ia dalam benakku. Rasanya, hati ini terlalu khawatir akan banyak hal. Apakah itu tentang keadaannya? Bagaimana ia menjalani harinya dengan sendirian? Apakah ia merasa cukup? Bagaimana kondisinya? Dan apakah ia merasa bahagia? Serta, apakah aku terlalu menghawatirkannya? Itu benar, aku bukan siapa-siapanya. Dan dia bukan siapa-siapaku. Kenapa aku harus bersikap demikian? Kenapa aku harus mengkhawatirkan ia yang tidak lama baru ku temui? Entahlah, entah kenapa aku merasa ia juga merasakan hal yang sama. Aku hanya takut satu hal. Apakah ia akan kesepian?


Namun, aku tidak pernah menginginkan hari itu datang. Hari dimana angin sunyi menyapu semuanya. Di hari itu, aku ingat benar. Malam begitu indah dengan banyak taburan bintang sebagai corak indahnya. Seiring menit dan kian detik Cahayanya semakin terang dan indah. Namun, detik demi detik berikutnya, angin itu mulai datang dengan lembut. Dan tidak pernah ku sangka. Begitu indah Cahaya para bintang kala malam itu. Bukan hanya perlahan. Namun, tiba-tiba saja menghilang ... Ditelan angin sunyi bernama Rasa Kecewa.

人—☆




___________________

@fara_yasma013

27/5/23 for 25/5/23


Sumber: LovePik.com | Editor kedua: Vansa


Komentar

Postingan populer dari blog ini

1800 Second from Independent Square : Prolog